page contents
Travel

Apa yang Gue Dapat dari Solo Travel

“As you move outside of your comfort zone, what was once the unknown and frightening becomes your new normal.” — Robin S. Sharma, author and inspirational speaker

Butuh keberanian besar untuk jadi seorang solo travel, apalagi untuk seorang yang sok berani macem gue. Iya loh, sampai gue umbar-umbarin kemana-mana kalau gue mau solo travel buat ngumpulin keberanian. Tapi, demi menyandang status “keren” di mata makmak kantor gue, ya harus berani dan nekat dong!

Untuk pemanasan menjadi seorang solo travel, gue sengaja pilih ke negara-negara yang ada di Asia Tenggara, yang apalagi alasannya selain karena kurs rate mereka yang murah. Kemudian pilihan gue jatuh ke Ho Chi Minh, Vietnam. Kenapa? Karena waktu itu gue masih belum sePD Jenny buat ngesolo punya temen lokal Vietnam, dan sengaja banget minta dia untuk nemenin gue keliling Ho Chi Minh. Hehehehe. Dengan niat busuk biar di sana dijajain terus gue bisa ngirit menjalin silaturahmi.

Niatnya hunting sunrise, tapi sayangnya mendung ๐Ÿ™

Sedangkan pengalaman benerannya, adalah ketika gue menyebrang ke negara tetangganya, yaitu Kamboja. Gue pengen banget ke Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja! Sebenernya inilah tujuan utama gue. Itinerary yang gue bikin duluan aja adalah gimana menuju Angkor Wat, naik apa, berapa harga tiketnya, mau nginep dimana, sampai gue menghubungi sopir tuktuk muslim lokal untuk sewa sejak jauh-jauh hari.

Nah, karena tiket pesawat balik gue adalah dari bandara Internasional Phnom Penh, maka dalam perjalanan kali ini gue mengunjungi 3 kota, 2 negara. Gue naik Malindo Air yang waktu itu emang lagi promo (dia sering ada promo lho). Jadi urutannya begini:

11 Agustus : Jakarta โ†’ Ho Chi Minh, Vietnam (transit Kuala Lumpur)

12 Agustus : Satu harian keliling Ho Chi Minh

13 Agustus : Satu harian menuju Siem Reap, Kamboja (transit Phnom Penh)

14 Agustus : Satu harian wisata Angkor Wat, malamnya langsung kembali ke Phnom Penh

15 Agustus : Satu harian keliling Phnom Penh

16 Agustus : Kembali ke Jakarta (transit Kuala Lumpur)

Kalau kata temen gue, โ€œelo piknik tapi sibuk banget sih?โ€

Maafkan deh yah, maklum mumpung ke luar negeri gitu lho. Dan emang bodohnya diriku, beli tiket pulang dari Phnom Penh, padahal kan ada tujuan ke Siem Reap. Harusnya mah pulang ke Jakarta dari Siem Reap aja. Bagi yang belum ngerti peta Vietnam โ€“ Kamboja, silahkan perhatikan rute berikut:

Jarak tempuh lebih dari 12 jam by bus. Gue dari HCM jam 8 pagi dan sampai SR jam 9 malam.

Kebayang kan, gue harus bolak-balik ke Phnom Penh dengan terburu-buru? Tapi, dari situ gue jadi bisa nyobain tidur di sleeper bus sih! Lumayan bisa hemat ongkos nginep semalem.

Karena ini pengalaman pertama kali gue bersolo travel, banyak hal yang gue pelajari.

1.Gue ngerasa lebih PD

Pada dasarnya, ini sifat wajib kalau mau jalan sendirian. Jangan pedulikan apa kata orang-orang, apalagi yang hobi nyinyirin elo jomblo. Jangan! Jangan dipikirin! Percaya aja jodoh di tangan Tuhan! (apa sih ini?).

Gue waktu itu bawa koper. Saat diturunin oleh sopir bus kuning di sekitaran Taka Plaza (kalau gak salah inget), dari situ gue harus menuju penginapan sendiri. Gue pilih berjalan kaki aja ketimbang naik ojol Grab. Sekalian lah buat jalan-jalan lihat suasana Ho Chi Minh. Namun, karena jalanan trotoar Ho Chi Minh pun ada yang jelek-jelek kayak di Jakarta, gue sempat kesusahan nyeret koper. Dan lagi saat itu hujan gerimis. Saat mulai deras, gue numpang berteduh di bawah atap sebuah warung makan. Duduk di atas koper, melepas lelah berjalan sambil menikmati rintikan hujan, senyum puaaas karena udah bisa sampai di Ho Chi Minh (walaupun belum ketemu hostelnya), senyum kepada pohon, ke orang-orang yang lewat, ke gedung sekolah di sebrang jalan, ke semut-semut di dinding. Hehehe. Gue ngerasa sih dilihatin oleh orang-orang lokal di sekitaran situ, tapi gue ngerasa PD aja! Rasanya gue malah pengen nyanyi dan joget India sekalian!

Ini jalanan di mana gue senyum-senyum sendiri.

2. Gue ngerasa lebih cerewet

Jujur, bahasa Inggris gue terbatas banget apalagi kemampuan untuk speaking. Tapi di sini gue dituntut untuk cerewet, walau sekedar tanya jalan atau tanya makanan halal. Gue juga gak malu menyapa dan cerita macam-macam ke orang asing sesama turis maupun warga lokal seperti sopir tuktuk, mbak resepsionis hostel, adek-adek yang jualan snack kalajenging, dll. Walaupun gue piknik sendirian, tapi gak kerasa kesepian! Ditambah lagi, bahasa Inggris gue jadi tambah jago!

Naik tuktuk sambil ngobrol ngalur-ngidul. Sambil sekalian belajar bahasa Tagalog.

3. Gue ngerasa lebih santai

Walaupun jadwal piknik gue bisa dikatakan padat, tapi gue seneng karena gak merasa terbebani seperti jalan bareng teman-teman. Ngerti kan maksudnya? Kalau jalan sendiri, elo bebas kemana saja tanpa persetujuan siapa pun. Kalau pergi berkelompok, kadang tujuan satu sama lain berbeda dan buat orang yang gak sabar dan pengertian macam gue, ini bisa menimbulkan konflik berkepanjangan. Hahaha.

Mau duduk doang di taman sambil liatin merpati, bebaaas.
Mau godain biksu pun, bebaaas.

4. Gue bisa dapat teman baru

Nah, ini yang paling seru. Bisa dapat pacar teman satu malam. Apalagi kalau elo tinggal di hostel dengan kamar asrama, tinggi kemungkinan punya teman baru dari teman-teman sekamar. Gue sendiri dapat teman dari Filipina, karena kami sewa sopir tuktuk yang sama. Akhirnya terbentuklah persahabatan satu hari. Dari keliling Angkor Wat bareng, nawar souvenirs bareng, sampai gila bareng di Pub Street. Saat berpisah ke tujuan masing-masing pun, kami masih kontakan sampai sekarang. Suatu saat mereka ingin berkunjung ke Indonesia, dan begitu pun gue berharap tahun depan bisa berkunjung ke Filipina!

Teman Angkor Wat dari Filipina, Neil & Abi.

5. Gue ngerasa lebih bersyukur

Bisa jalan-jalan ke luar negeri aja udah bikin gue bersyukur walaupun diiringi dengan kepameran. Hahaha. Tapi yang lebih membuat gue bersyukur adalah 4 hal di atas. Sebelum pergi, gue sempat was-was dengan banyaknya info tentang copet, scam, dll yang mengharuskan gue super hati-hati. Tapi alhamdulillah, semua itu gak terjadi sama gue dan malahan gue sering ketemu orang-orang yang baik.

Pengalaman ini juga membuat cara pandang gue lebih luas. Juga menyadari bahwa sebenarnya Indonesia itu jauuuh lebih indah. Sayangnya akses yang masih susah dan juga akomodasi yang masih mahal. Huhuhu.

Kalau pengalaman solo travel pertama kalian bagaimana? Cerita juga ya! Siapa tahu pengalaman kalian lebih dalem dari gue, kan? ๐Ÿ˜‰

Oh ya, baca lebih lanjut cerita lengkapnya di sini:

Menikmati Kota Ho Chi Minh dalam Sehari

Dari Vietnam Ke Kamboja Via Darat

Virgo girl. Debater Personality. I do what I wanna do.

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *