page contents
Travel

Menikmati Kota Ho Chi Minh dalam Sehari

“Never did the world make a queen of a girl who hides in houses and dreams without traveling.” – Roman Payne


Pertama kalinya, gue mengunjungi kota Ho Chi Minh (atau dikenal juga kota Saigon), Vietnam pada tanggal 11 – 13 Agustus 2018. Ini juga pertama kalinya gue keluar negeri sendirian. Karena masih gak yakin bisa berkelana seorang diri di negeri orang dengan bahasa yang tak dimengerti, gue menghubungi teman lokal Vietnam untuk temu kangen sekaligus menemani gue main.

Gue mendarat di Bandara Internasional Tan Son Nhat sore hari, sekitar pukul 16.00 dengan sebelumnya transit di Bandara Kuala Lumpur. Sebelum hari keberangkatan, gue sudah survei sebelumnya tentang wisata di Ho Chi Minh melalui blog-blog traveler lain ataupun tanya-tanya ke teman gue yang sudah pernah ke sana. (Kalian bisa juga baca blog teman gue untuk referensi di sini. )

Hal yang pertama kali terbenak sejak mendarat adalah, gimana caranya bisa internetan! Karena ini penting banget untuk eksis di sosmed menghubungi keluarga bahwa gue sudah sampai dengan selamat. Berdasarkan info dari teman, di pintu keluar bandara ada banyak konter yang menjual paketan internet mulai dari satu hari sampai berbulan-bulan. Sewaktu gue berjalan menuju imigrasi, ternyata di dalam pun ada yang menawarkan sim card. Buat kalian, jangan tergiur beli di situ karena harganya lebih mahal daripada yang di luar (dua kali lipatnya!). Dan di luar, ternyata deretan konternya lebih dari yang gue bayangkan! Banyak banget bervariasi dari berbagai macam provider dan harga. Soal harga, menurut gue gak jauh berbeda satu sama lain bahkan rata-rata sama. Tapi gue memilih konter dengan antrian paling panjang. Ini juga yang direkomendasikan oleh temen gue. Letaknya ada di paling pojok kiri setelah pintu keluar bandara.

Gue memilih paketan untuk 3 hari. Karena walaupun gue cuma bisa wisata sehari saja, tapi gue ada di Ho Chi Minh sejak tanggal 11 sampai tanggal 13 Agustus. Harganya, 100.000 VND untuk unlimited 5gb selama 3 hari (FYI: rate 1 IDR = 1,5 VND saat itu).

Dan akhirnya gue bisa internetan! Langsung tanpa babibu gue update story IG menghubungi orang rumah, dan bertanya ke teman. “Dari bandara ke penginapan naik apa?” Wkwkwk percayalah, ini jangan ditiru! Pastikan kalian cari info sebelumnya, bagaimana cara naik kendaraan dari bandara menuju tempat tujuan kalian, jangan random kayak gue! Kata teman, “naik aja bus warna kuning di sebelah kanan.” Benar saja, dengan luas bandara yang tak seberapa, dalam jangkauan penglihatan mata, bus yang dimaksud langsung ketemu. Segera gue menghampiri, menunjukkan alamat hostel ke penjual tiket. Setelah dia mengangguk mengerti, sambil berteriak ke sopir bus, dia menyodori gue selembar tiket seharga 20.000 VND. Naik ke dalam bus, ternyata sudah ada beberapa bule barat dan Asia.

Saat itu gerimis, gue duduk sambil menikmati pemandangan kota dari balik jendela. Di sebelah kiri jalan tak lama setelah bandara, ada taman yang cukup panjang. Suasanya syahdu banget, sampai gue terharu. Oh iya, kalian bisa lihat cuplikan suasananya di highlight Instagram gue ya (inilah gunanya internet, guys). Gue pun hanyut dalam menikmati suasana sampai kondektur bus menghampiri dan berbicara bahasa Vietnam. Gue cuma bisa melongo awalnya, tapi kemudian menyadari bahwa dia ingin tahu alamat hostel gue. Kembali gue sodorkan alamat hostel yang sudah tercapture di HP. Kata dia, gue harus turun di perempatan di depan.

Diturunkanlah gue di perempatan jalan bersama dengan seorang bule lain. Gue sempat panik karena bingung habis ini ke arah mana. Bermodal Google Maps, gue jalan bareng si bule berdua, namun akhirnya berpisah di sebuah pertigaan karena beda arah tujuan. All is well! Gue pun lanjut berjalan kaki menuju hostel sambil gerimis-gerimisan. Sebetulnya bisa saja gue pergi dengan naik Grab, tapi gue pikir jaraknya masih wajar ditempuh dengan jalan kaki, jadi biar hemat lah, sekalian biar lemak perut menguap. Butuh sekitar sejam kali gue jalan sambil sesekali neduh dan sempat nyasar-nyasar sampai akhirnya gue sampai juga di hostel.

***

Huyen, dia ini karyawan dari sister company di Vietnam yang sudah beberapa kali business trip ke Jakarta. Sebagai sesama penerjemah bahasa Jepang, kami langsung akrab sejak dia datang ke Jakarta. Si Huyen, dengan senang hati menyambut kedatangan gue, walaupun ia bukan warga kota Ho Chi Minh. Tanggal 11 malam, dia tiba di hostel tempat gue menginap bersama dengan temannya, Hoa, yang juga sesama penerjemah bahasa Jepang dan sekantor dengannya. Jadilah kami bertiga langsung cusss mencari makan malam.

Jujur saja, semua agenda gue pasrahkan kepada Huyen dan Hoa. Hehehe. Pokoknya status gue di sini adalah sebagai tamu kehormatan! Hahaha.

Hoa (kiri) dan Huyen (kanan).

Berjalan menyusuri distrik 1 yang terkenal bagi wisatawan, kami mampir ke sebuah warung seafood di pinggir jalan dekat Parkson Plaza. Warungnya rame banget! Makanan di Vietnam ini, masih masuk di lidah orang Indonesia. Huyen dan Hoa memesan berbagai jenis makanan, termasuk nasi goreng ala Vietnam.

Cá Kèo nướng sa tế . Ika Keo bakar. Ika ini banyak ditemui di sungai Mekong, jadi gak heran kalau orang Vietnam doyan banget sama ini ikan. 🙂 Enaaak! Mirip-mirip masakan Jepang gitu sih.

Setelah kenyang dan puas bercengkrama, kami jalan-jalan di sekitaran distrik 1 sampai ke Balai Kota Saigon. Gedung ini merupakan salah satu tempat yang biasanya dikunjungi oleh wisatawan karena bangunannya merupakan peninggalan dari kolonial Perancis. Di seberang jalan terdapat taman Paman Ho. Suasananya seperti alun-alun kota di Indonesia! Semua orang ngublek di sana dengan berbagai macam aktivitas. Termasuk kami yang sibuk berfoto ria.

Gedung Balai Kota dan patung Paman Ho.
Banyak yang jualan dan abang Grab nongki.
Sama kan kek di Indonesia, ada yang ngamen pakai cosplay juga 😀
Banyak dedek emesh gahol pulak.

Karena sudah malam dan capek, malam itu kami memutuskan untuk pulang ke hostel (mereka ikutan nginep di kamar gue), dan lanjut berpetualang lagi esok hari.

Rame ye kaaan. Pada malam mingguan padahal abis ujan.

***

Petualangan hari itu kami mulai dengan mengisi perut! Sarapan Pho! Menu sarapan kami sudah direncanakan sejak semalam. Kebetulan memang Pho adalah salah satu masakan khas Vietnam yang ingin gue cicipi. Mereka mengajak gue ke warung Pho yang terkenal, bahkan Expatriate kantor kami, sudah menjadi langganan di warung satu ini.

Pho adalah masakan mie dengan kuah kaldu sapi yang tentunya ditaburi dengan irisan daging sapi dan juga tauge. Biasanya dimakan juga dengan aneka sayuran lalapan! Gue sebagai pecinta dedaunan, tentunya doyan bangeeet. Dimakan sama pete juga enak ini mah! Hahaha.

Selanjutnya, kami menuju ke War Remnants Museum yang sebelumnya kami lewati saat menuju ke warung Pho. Tiket masuk untuk turis asing adalah 15.000 VND dan 2.000 VND untuk turis lokal.

Maaf, gue gak bisa banyak foto di sini, karena pakai lensa 35mm. Hehehe.

Museum ini bisa segera di kenali dari jalanan, karena ada pesawat dan juga tank yang nangkring di halamannya. Karena merupakan meseum tentang perang Vietnam, tempat ini terkenal di antara wisatawan asing terutama bule-bule barat. Selain menunjukkan koleksi aircraft, museum ini juga mempunyai pameran foto  Mỹ Lai Massacre yang merupakan pembunuhan massal warga sipil saat perang Vietnam. Ada pula diorama kondisi penjara di Vietnam Selatan. Selain itu, kalian juga bisa beli souvenir di sini. Harganya masih termasuk murah sih. Gue juga beli tempelan kulkas di sini, karena gak sempat ke Ben Thanh market.

Di pasir itu ada ranjaunya beneran, guys!
Banyak foto-foto mengerika di sini. Para korban perang. 🙁 Sediiih dan ngeri!

Dari War Remnants Museum, kami menuju ke Independence Palace dengan naik mobil Grab. Di sana kami ketemuan lagi dengan teman Huyen yang gue lupa siapa namanya (maaf ya sis).

Memang karena sedang musim liburan musim panas ya, tempat wisata inipun ramai dikunjungi. Kalau nggak salah ingat, tiket masuknya seharga 40.000 VND. Bangunan ini merupakan landmark kota Ho Chi Minh yang dulunya merupakan tempat tinggal sekaligus tempat kerja dari President Vietnam Selatan semasa perang. Ruangan-ruangannya masih dijaga keorisinilannya. Para wisatawan boleh mengunjungi semua lantai dari bawah tanah hingga atap gedung ini.

***

Matahari pun sudah di atas kepala, membuat perut kami keroncongan. Hehehe. Huyen dan rombongan berdiskusi dengan bahasa planet Vietnam, dan gue hanya iya-iya saja mengikuti sampai tibalah kami di sebuah restoran masakan Vietnam. Wah! Ini nih yang paling gue suka, kulineran!

Maaf!!! Ternyata gue cuma foto Banh xeo ini doang. Hahaha. Padahal kami pesan banyak waktu itu, termasuk lumpia Vietnam.

***

Dikarenakan teman-teman Vietnam gue ini adalah sekumpulan wanita narsis, mereka mengajak gue buat foto-foto di 3D arts museum, Artinus. Lokasinya lumayan jauh di distrik 7. Termasuk tempat wisata baru karena baru dibangun tahun 2015. Sampai di sana, gue agak-agak gak rela sih karena tiket masuknya mahal! 250.000 VND! Cuman karena si Huyen yang keukeuh, “Sayang kalau gak ke sini! Bisa foto macam-macam sepuasnya lho!” dengan mata berbinar-binar, jadi mau gak mau gue ikutan masuk juga deh dengan setia menjadi fotografer mereka bertiga. Hahaha.

Menutup hari, kami menuju sebuah gedung yang katanya lagi ngehits di Ho Chi Minh, Landmark 81. Rencananya sih kami ingin naik dan melihat pemandangan kota dari atas. Tapi, setelah muter-muter enggak ketemu harus naik dari mana. Hahaha. Akhirnya kami keluar gedung dan duduk-duduk santai di halamannya. Ada jembatan unik yang belakangan gue baru tahu kalau itu ngehits di Instagram, dan gue nyesel pake banget gak foto di jembatannya! Saat itu memang kami udah capek sih gara-gara muterin dalam mall untuk cari lift ke atas tapi gak ketemu.

Dan matahari pun mulai terbenam, gue ngeGrab sendiri menuju hostel dan teman-teman gue balik ke kota mereka dengan bus, karena besok adalah hari senin dan mereka harus kerja lagi.

Itu di belakang, ada jembatan ngehits!
alau sepi sih emang Instagramable gitu tempatnya.

Pengalaman yang seru, walaupun gue gak sempat mengunjungi tempat-tempat wisata lain terutama yang gratisan, seperti Gereja Basilika Notre-Dame atau Kantor Pos Saigon. Sebenarnya pengen juga sih menyusuri sungai Mekong atau ke Chu Chi Tunnel. Tapi, ini bisa jadi alasan gue buat balik lagi ke Ho Chi Minh! Semoga tahun depan ada waktu buat ke sini lagi. Amiiin 🙂

Selanjutnya, gue akan melanjutkan perjalanan menuju Kamboja. Baca juga:

Dari Vietnam ke Kamboja via Darat

Tạm biệt! Jangan lupa follow yah! 😀

Virgo girl. Debater Personality. I do what I wanna do.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *