page contents
Travel

Keliling Angkor Wat & Angkor Archaeological Park

“Traveling solo does not always mean you’re alone. Most often, you meet marvelous people along the way and make connections that last a lifetime.” – Jacqueline Boone

Setelah lolos dari cross border Vietnam – Kamboja, bus yang gue tumpangi melaju memasuki kawasan kota Bavet, Kamboja. Menyusuri jalanannya yang gersang dan berdebu, menuju ke kota Siem Reap di mana sebuah gugusan candi terbesar di dunia, Candi Angkor Wat berada.

Baca juga: Dari Vietnam ke Kamboja via Darat.

Candi Angkor Wat adalah salah satu candi yang berada di kompleks Angkor Archaeological Park dan termasuk dalam UNESCO World Heritage Site. Candi megah ini menjadi salah satu list kunjungan para traveller dari seluruh dunia. Sehingga tak heran jika rakyat Kamboja sangat bangga dengan keberadaan Angkor Wat, bahkan diabadikan dalam bendera nasional dan mata uang Kamboja. Gue sendiri juga sangat penasaran untuk hunting sunrise di Angkor Wat yang katanya cuantik banget!

***

Sesuai tujuan utama gue ke sini yaitu berburu sunrise, jadilah gue janjian dengan sopir tuktuk, Pak Sok Ramet yang sudah gue booking jauh hari sebelumnya untuk dijemput sebelum subuh.

Pukul 04.30, gue sudah siap di lobby menunggu Pak Sok Ramet. Beliau ini adalah sopir tuktuk langganan anggota Backpacker International Indonesia lho. Pak Sok adalah warga Kamboja yang beragama muslim. Karena dulu pernah belajar Islam di Malaysia, beliau pun jago bahasa Melayu, bahasa Indonesia, bahasa Inggris tentunya, dan juga bahasa Tagalog! Jadi tak heran kalau pelanggan setia beliau adalah orang-orang Indonesia, Malaysia dan Filipina. Termasuk teman tur gue hari itu adalah dua orang Filipina. Untuk menggunakan jasa Pak Sok ini seharian adalah 20 USD, free air putih dingin sepuasnya.

Titik pertama yang kami singgahi adalah gedung loket pembelian tiket masuk. Tersedia tiket untuk kunjungan 1 hari (37 USD), 3 hari (62 USD), dan 7 hari (72 USD). Cukup pricey memang, bikin simpenan dolar langsung ilang drastis.

Oh ya, tiket masuk yang di dapat unik juga lho! Di loket kita akan difoto dan dicetak ditiketnya. Jadi semacam Visa gitu, deh. Bisa banget dijadikan kenang-kenangan.

Selanjutnya, tuktuk kami menuju lokasi. Turun dari parkiran, kami berjalan menuju pintu gerbang Angkor Wat dengan menyebrangi parit yang mengelilingi candi. Sejak perjalanan tadi kami sudah was-was karena gerimis terus, langit pun mendung. Beruntung setiba di lokasi gerimis sudah reda. Namun, benar saja matahari sepertinya enggan menampakkan diri dan malah sembunyi di balik mendung. Gagal berburu sunrise deh.

Menyebrangi parit dulu untuk menuju gerbang. Sebetulnya ada jembatan aslinya tapi sedang dalam renovasi.

Tak berlarut dalam kekecewaan, kami takjub melihat megahnya Angkor Wat dengan mata kepala sendiri. Karakteristik bangunan memang seperti candi Prambanan karena dahulu difungsikan sebagai kuil Hindu sebelum beralih fungsi menjadi kuil Budha. Terdapat satu menara yang paling tinggi di tengah, dan empat menara lainnya mengelilingi.

Puas foto-foto di depan, kami masuk keliling ke dalam candi Angkor Wat. Ternyata candi ini masih digunakan juga untuk beribadah. Terlihat beberapa biksu sedang melayani pengunjung yang datang untuk berdoa.

Pak Sok dengan senang hati membantu mengambil foto di setiap momen.

Kami pun lanjut masuk lebih dalam dan mendapati area seperti bekas kolam. Sambil rehat sejenak, kami juga berfoto ria di sini.

Dengan luas bangunan sekitar 187 x 215 m, ternyata cukup melelahkan juga sehingga kami memutuskan untuk tidak naik ke atas menara, kami hanya berkeliling dan foto-foto saja. Pak Sok ini lumayan ahli juga menunjukkan kami spot-spot terbaik untuk ambil foto. Sayangnya sopir tuktuk tidak diperbolehkan untuk berbicara banyak mengenai sejarah Angkor Wat ini. Katanya, apabila ketahuan bisa diberi sangsi tidak boleh membawa penumpang kemari lagi. Jadi yang berhak menjelaskan sejarah di seluruh kawasan Angkor Archaeology Park ini adalah hanya para tour guide saja.

Singkat cerita, Angkor Wat ini mempunyai arti harfiah “The City of Temples“. Berdiri sekitar abad ke 12 pada masa Raja Suryavarman II dan dipersembahkan untuk dewa Wisnu. Selebihnya, silahkan googling sendiri. Hehehe.

***

Puas dengan Angkor Wat, kami pun berpindah ke candi-candi yang lain. Sebelumnya kami mampir dulu ke toilet karena kebanyakan minum air. Hehehe. Fasilitas toilet yang disediakan lumayan bersih dan gratis. Tapi bagi penduduk sekitar dikenakan biaya. Hal ini dikarenakan mereka tidak membayar tiket masuk untuk memasuki wilayah Angkor. Unik juga peraturannya ya.

Destinasi selanjutnya adalah Angkor Thom. Gerbang Angkor Thom ini memiliki tembok tinggi yang juga dikelilingi oleh parit. Sehingga terdapat jembatan penghubung. Di jembatannya terdapat deretan patung wajah setengah badan di masing-masing sisinya. Di sini juga merupakan spot foto favorit para turis nih.

Tiba di Angkor Thom, ternyata di bagian depannya sudah runtuh dan banyak batu-batu ditumpuk seperti gunung. Kalian jangan macam-macam ambil bebatuan itu ya, bisa-bisa dimarahin gara-gara mindahin batu kayak temen gue. Hahaha. Untuk gaya arsitekturnya agak berbeda dengan Angkor Wat. Di setiap menara terdapat ukiran wajah di masing-masing sisinyaBanyak turis mengambil foto lucu seakan berciuman dengan ukiran wajah tersebut. Kalau gue sih cukup foto ala selebgram saja. Haha.

Hari makin terik, kami pun bergegas menuju Ta Prohm yang mempunyai area adem karena banyak pepohonan tinggi. Bahkan akarnya menembus ke candi, seakan-akan sedang dililit. Dari sekian candi-candi, di sini hawanya rada-rada serem sih. Mungkin karena suasananya dibiarkan liar apa adanya ya. Ta Prohm ini juga terkenal banget karena merupakan lokasi syuting film Tomb Raider. Gue sendiri sih belum nonton filmnya tuh. Ada yang udah nonton?

Oh ya, waktu masuk ke kawasan Ta Prohm kalian akan takjub dengan anak-anak Kamboja yang mahir berbagai macam bahasa. Mereka menjajakan sovenir kepada turis dengan menggunakan bahasa asal si turis. Hebat banget deh! Selain itu juga ada sekelompok bapak-bapak yang memainkan pertunjukan musik tradisional Kamboja di sini. Alias ngamen.

Terakhir, kami mengunjungi Pre Rup. Candi ini juga berbeda dari yang lain, karena warna-nya yang kemerahan. Hal ini karena ia dibangun dengan menggunakan paduan batu bata merah. Gue pribadi paling suka dengan candi ini, karena warna merahnya emang cantik banget. Di bagian depan tangga candi, terdapat tadah hujan. Kami pun hanya berkeliling di sekitaran situ saja tanpa naik ke puncak. Hehe. Dipikir-pikir lagi, kenapa kemarin gue gak naik sampai atas sih? Dasar pemalas.

Nah, itu dia beberapa candi di kompleks Angkor Archaeological Park yang gue kunjungi tempo lalu. Masih banyak candi-candi lain sebenernya. Kalau kalian mau lengkap ngunjungin semuanya, gak akan cukup dengan hanya sehari saja! Ada dua jalur tur yang bisa dipilih turis seperti deskripsi gambar peta di bawah halaman, yaitu small circuit dan grand circuit. Small circuit yang gue tempuh hari itu saja tidak cukup waktu untuk mengunjungi semua candi. Jadi kalau yang mau berkunjung santai dan dapat semua destinasi, kalian bisa coba ikut grand circuit selama paling tidak 3 hari.

***

Usai tur, kami bertiga masih lanjut jalan bareng untuk berburu sovenir murah di Night Market, dan nongki-nongki syantik di sebuah kafe di Pub Street. Di Pub Street selain berderetan kafe dan bar, ada juga pasar kecil, namun di sini harganya relatif lebih mahal dan susah di tawar. Ada juga jajanan-jajanan pinggi jalan, termasuk jajanan ekstrim gorengan kalajengking dan lain-lain! Kalau tidak ingin makan gorengan tersebut, kalian boleh juga foto-fotoin jajanannya, tapi kalian harus bayar sekali jepretan 1 USD! Hahaha. Serius!

Well, malam itu gue langsung balik ke Phnom Penh dengan sleeper bus. Selain niatnya irit biar hemat ongkos penginapan, gue emang ingin mencoba sensasi tidur di dalam sleeper bus. Hehehe. Karena memang desain bus ini seperti asrama hostel dengan kasur bertingkat. Satu kasur biasanya diisi oleh dua orang, ada stop contact jadi bisa ngecharge juga. Disediakan pula selimut dan bantal kecil. Cukup nyaman kalau digunakan sekasur sendirian. Hehehe. Dan lucky me, malam itu gue sekasur sendirian! Gak nyangka juga bisa tidur nyenyak di situ, mungkin karena capek seharian keliling candi ya. Bangun-bangun sudah pagi dan sampai di Phnom Penh.

Alhamdulillah. Saatnya berpetualang lagi!

Peta Kompleks Candi Angkor. (sumber: Angkor Map)

Virgo girl. Debater Personality. I do what I wanna do.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *