page contents
Travel

Fort Canning Park: Menelusuri Sejarah Singapura

Fort Canning Park, merupakan salah satu taman di Singapura yang menjadi saksi bisu sejarah. Bahkan, dahulu taman yang berada di bukit ini dikenal angker! Ini bukan tanpa sebab, warga Singapura percaya bahwa taman di perbukitan ini merupakan istana leluhur. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya artefak saat penggalian arkeologis.

Namanya juga bukit yah, untuk mencapai puncaknya harus mendaki dengan ketinggian 48m. Ditambah dengan luas taman 18 hektar. Gue menyesal karena sudah sok kuat mendaki dan keliling dengan backpack nyantol dipunggung! Untungnya, di sini terdapat air minum pancuran gratis. Selama di Singapura ini keseringan gue puasa minum. Hehehe. Pasalnya tau kan, kalau di sini air minum itu mahal. Semahal cintaku padamu.

Ada hotelnya juga lho! Kira-kira berapa ya harga menginap per malam?

Tapi ternyata, di sini ada eskalator untuk mendaki juga lho. Jadi kalian tidak perlu capek-capek naik tangga menanjaki bukit, kecuali sedang program diet sehat. Sayangnya gue baru tahu mengenai keberadaan eskalator ini setelah pulang kembali ke Jakarta. Haha. Beginilah contoh backpacker yang kurang riset.

Makanya, gue tergerak untuk menulis berbagai informasi tentang Fort Canning Park di post ini agar kalian tidak tersesat ke dalam hati seperti gue. Baik kan gueeee.

Baca juga: Itinerary SIngapore & Malaysia dalam 4 Hari! Part 1

Cara ke Fort Canning Park

Bisa ditempuh dengan bus maupun MRT. Lokasinya yang strategis bisa dicapai dari Stamford Road, Penang Road, Hill Street dan River Valley Road. Paling umum dicapai oleh wisatawan melalui MRT. Ada empat statiun yang bisa dicapai yaitu stasiun Dhoby Ghaut, Clarke Quay, Bras Basah, dan Fort Canning. Namun setelah gue coba keliling kemarin, lebih enak naik bus saja karena ada halte persis di depan taman.

Fort Canning Arts Centre.

Berikut akomodasi lebih jelasnya:

Stamford Road. Stasiun terdekat: Bras Basah, Exit C. Halte terdekat: Singapore Management University (SMU). Dari SMU, kalian bisa naik eskalator sebelah National Museum of Singapore. Berhentilah sejenak untuk ambil foto ala selebgram di sini!

Penang Road. Stasiun terdekat: Dhoby Ghaut, Exit B. Halte terdekat: Dhoby Ghaut Station. Dari stasiun Dhoby Ghaut menyebrang ke Penang Road lalu belok kiri. Ikuti saja jalannya nanti akan ketemu terowongan. Nah, naik saja tangga spiralnya yang juga sering menjadi spot foto terbaik di sini.

Hill Street. Stasiun terdekat: Clarke Quay, Exit E. Halte terdekat: Ministry of Culture, Community & Youth (MCCY). Dari MCCY tidak jauh, ikuti saja jalannya.

River Valley Road. Stasiun terdekat: Fort Canning, Exit B. Halte terdekat: Fort Canning Station. Dari sini lebih dekat lagi, tinggal jalan naik tangga ke atas.

Tangga spiral di terowongan dari Penang Road.

Ada apa di Fort Canning Park?

Nah, sekarang kalian sudah sampai di Fort Canning Park! Mulai dari mana dulu nih kelilingnya? Hehehe.

Di Fort Canning Park, banyak yang bisa dilihat karena taman ini menampilkan berbagai tema, terutama dari sejarahnya.

Gothic Gate, gerbang masuk ke area Fort Canning Arts Centre.

Mari kita tengok dulu sejarahnya secara singkat (kalau ada salah atau tambahan, komentar ya!)

Pada tahun 1819, orang British datang dan mengambil alih bukit tersebut. Sir Stamford Raffles, seorang British yang merupakan pendiri kota Singapura, membangun kediamannya di sini serta alat-alat komunikasi seperti mercusuar, kantor telegram, Battlebox dan lain-lain. Di sini pula dikembangkan Botanical Garden yang pertama di Singapura, jadi banyak berbagai macam tumbuhan dan pepohonan yang rindang yang sudah berumur puluhan bahkan mungkin ratusan tahun.

Jadi buat kalian yang ingin mengetahui sejarah atau tempat yang adem dengan banyak pepohonan hijau, Fort Canning Park bisa menjadi pilihan yang tepat untuk dikunjungi.

Pemerintah Singapura juga memberikan beberapa trek acuan berjalan kaki sebagai pilihan untuk para wisatawan yang mengunjungi Fort Canning Park.

PIlihannya yaitu 1. Fort Tail; 2. Spice Garden Trail; 3. Colonial Trail; dan 4. Ancient History Trail.

Info selengkapnya bisa mengunjungi ke website resmi pemerintah di www.nparks.gov.sg ya. Kalian bisa unduh peta terlebih dahulu di sini sebelum ke sana.

The Battlebox

Gue sendiri kala itu lebih tertarik untuk mengikuti tur Battlebox. Battlebox ini merupakan bunker bawah tanah terbesar di Singapura yang dibangun sekitar tahun 1930 an dan merupakan bagian dari British Far East Command Headquarters selama Perang Dunia II.

Untuk mengikuti tur ini bisa membeli tiket langsung dengan nominal 20 SGD (dewasa) dan 10 SGD (anak-anak) di Battlebox Visitor Centre yang berada di sebelah bundaran Hotel Fort Canning. Tur mereka diberi judul “A Story of Strategy & Surrender” dan berlangsung selama 1 jam lebih 15 menit. Kalian bisa lihat jadwal tur di website resminya di www.battlebox.com.sg ya. Selain beli tiket on the spot, bisa juga beli tiket online di Klook atau Traveloka, siapa tahu dapat diskon!

Pintu masuk ke bunker Battlebox.

Worth or not?

Tur Battlebox ini satu-satunya spot berbayar di area Fort Canning Park. Harganya juga bisa dibilang gak murah untuk warga Indonesia, jadi kira-kira pantas gak sih dikunjungi?

Tentu saja jawabannya adalah TERGANTUNG.

Hehehe. Iya, digantung oleh kamu itu sakit banget! 🙁

Pintu darurat keluar dari bunker.

Jadi begini, buat yang suka sejarah tentu saja harus datang kemari! Battlebox ini berhasil memenangkan museum #1 di Singapura dari TripAdvisor’s annual Travellers’ Choice Awards 2018 lho. Jadi sudah banyak feedback dari para pengunjung!

Di dalam bunker tentunya kita bisa melihat sendiri seperti apa keadaan bunker tersebut. Lalu, selain dijelaskan mengenai kejadian-kejadian atau aktivitas di dalam bunker, mbak guidenya juga menjelaskan struktur bunker Battlebox. Di tengah-tengah tur ada kuisnya juga lho! Jadi simak baik-baik saat mbak guidenya menjelaskan ya!

Sayangnya, gak boleh ambil foto atau merekam apapun di dalam bunker.

Fort Canning Arts Centre

Ada bangunan seperti rumah presiden (?) bercat putih di dalam area Fort Canning Park setelah melewati Gothic Gate. Ini dia bangunan Fort Canning Arts Centre yang dibangun pada tahun 1926 sebagai barak tentara British.

Wuih, dengar kata “barak” saja sudah kebayang horornya gak sih?

Bagus kan baraknya? Daripada menginap di Hotel Fort Canning, mungkin mau coba menginap di sini? 😀

Tapi gedung ini tidak terlihat horor sama sekali! Makanya tadi gue kira semacam rumah dinas. Hahaha.

Gue gak masuk ke dalamnya sih, tapi sepertinya bisa dikunjungi kok.

Fort Gate and remnants of Fort Wall

Kalau spot berikut bisa dibilang horor karena penampilannya yang terlihat suram.

Inilah Fort Gate, sisa benteng di Fort Canning Hill. Berfungsi sebagai tempat foto-foto. :v

Ngaso dulu aaaaah.

Dulu dibangun untuk melindungi Singapura dari serangan kapal asing. Selain itu juga berfungsi sebagai tempat perlindungan dari kerusuhan lokal untuk para penduduk Eropa yang tinggal di Singapura.

Keramat Iskandar Shah

Tidak jauh dari Fort Canning Arts Centre, terdapat kuburan keramat dari Iskandar Shah. Namanya juga kuburan, jadi sudah pasti di sini mutlak horor. Hahaha.

Nah, siapa sih Iskandar Shah ini?

Katanya sih beliau adalah Raja Melaka yang menamai kota Singapura. Awalnya karena ketika berburu di tanah ini, beliau melihat hewan yang diduga sebagai “singa”.

Konon, sama juga seperti kuburan keramat di Indonesia, kuburan ini sering didatangi untuk meminta pesugihan.

Raffles House, Raffles Terrace Maritime Corner

Raffles House dan Raffles Terrace.
Rumahnya mungil sederhana ya.

Iya betul, Pak Raffles itu membangun bungalo di puncak bukit Fort Canning sebagai kediamannya. Dari teras rumah Raffles menyuguhi pemandangan hotel Marina Bays di kejauhan. Di bawah rumah terdapat lighthouse dan telegraph office. Dahulu bukit Fort Canning juga berfungsi sebagai pelabuhan pada tahun 1819, oleh karena itu ada mercusuar di sini. Selain itu juga terdapat fasilitas komunikasi, dan alat yang pertama adalah flagstaff yang berfungsi sebagai informasi kedatangan, identitas, lokasi dan status kapal-kapal yang masuk di pelabuhan Singapura.

Replika Flagstaff dan view hotel Marina Bays.

Itu adalah beberapa spot yang gue kunjungi, selain itu masih ada spot-spot lain. Enaknya sih jika benar-benar meluangkan waktu untuk paling tidak setengah harian agar bisa mengeksplore dari ujung muter ke ujung lagi. Tapi jika memang mempunyai waktu yang terbatas, kalian bisa mengikuti anjuran trek dari peta yang sudah diunduh. Cocok juga untuk piknik keluarga sambil makan bekal di bangku-bangku yang tersedia.

Seruuuuu kan?! Hehehehehe. Ada yang sudah pernah mengunjungi juga? Komen ya! ^^

Virgo girl. Debater Personality. I do what I wanna do.

4 Comments

  • VINDRI PRACHMITASARI

    Wah, bagus banget tempatnya.
    Tempat wisata ini bisa banget dijadikan alternatif tempat wisata yang anti mainstream bagi orang Indonesia kebanyakan, jadi nggak melulu ke tempat yang itu lagi itu lagi kalo ke Singapore 🙂

    • Dini Aqmarina

      Halo Kak! Terima kasih sudah mampir :3
      Iya bener banget, apalagi orang Indonesia kalau ke Singapore hobinya belanja.
      Nha, di sini bisa alternatif lain buat bertapa di keramat nih biar duitnya balik refreshing dari hiruk pikuk pusat kota.
      Masih jarang banget yang datang ke sini~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *