page contents
Travel

Itinerary Singapore & Malaysia dalam 4 Hari! Part 2

Saat itu kepala gue tengah terantuk-antuk ketika kernet bus menyerukan agar para penumpang bersiap diri untuk turun ke kantor Imigrasi Woodlands, Singapura. Bus yang sempat sunyi mulai terdengar suara gerak-gerik penumpangnya. Gue menengok ke jendela bus, di luar terlihat gelap dan hanya cahaya dari sebuah gedung saja yang terlihat terang.

Woodlands Checkpoint. Begitulah tulisan yang tertera di atas gedung tadi.

Baca cerita sebelumnya: Itinerary Singapore & Malaysia dalam 4 Hari! Part 1

Be ready! No need to bring your luggage. Important thing only is ok.” Ujar bapak kernet berparas dan berlogat India berdiri di tengah bus.

Turunlah kami satu persatu dari bus yang datang terlambat hampir 1 jam dari jadwal yang semestinya. Tak terkecuali gue, beringsut dengan membawa tas selempang berisikan paspor dan dompet, lalu mengikuti yang lain turun dari bus.

Nyomot gambar di sini.

Walau dengan mata yang masih mengernyit karena silau cahaya lampu dari gedung, satu persatu para penumpang berjalan beriringan, bergegas masuk ke dalam garis antrian. Gue mengikuti dan memilih garis antrian yang paling pendek.

Tak terlihat petugas Imigrasi di setiap pos di ujung garis antrian kecuali di pos paling ujung kiri. Mereka memang sudah menerapkan sistem otomatisasi, di mana hanya dengan menscan halaman datadiri paspor, bisa berlalu meninggalkan tanah Singapura. Tentu saja, hal ini hanya berlaku bagi pemegang paspor elektrik. Tak seperti paspor Malaysia, beberapa turis Indonesia yang serombongan dengan bus kami harus mengantri di pos Manual lantaran masih menggunakan paspor biasa.

Si kernet berparas India tadi menghitung jumlah penumpangnya ketika kami telah berhasil lolos dari Woodlands Checkpoint dan naik lagi ke bus. Pak sopir menekan gas agar bus melaju lagi ketika kernet memberikan aba-aba. Kali ini kami akan menyebrangi jembatan yang menghubungkan daratan Singapura dan Malaysia yang terpisah oleh selat.

Rasanya cepat sekali ketika pak kernet kembali menyerukan suaranya agar kami bersiap. Namun kali ini, kami dianjurkan membawa semua barang bawaan. Beberapa turis Indonesia tadi mengeluh bingung, “Harus bawa semuanya? Duh, kan koper beraaat.” Tanpa menanggapi apapun, gue meraih tas punggung yang selama dua hari ini ikut bepergian kemanapun dari tempat penyimpanan barang di atas tempat duduk.

Beginilah, menjadi seorang backpacker memang praktis. Ditambah tubuh gue yang ringan membuat langkah kaki, drap drap drap, dengan cepat melenggang masuk gedung dan masuk ke garis antrian.

“Nak ape ke Malaysia?” tanya petugas Imigrasi yang melayani gue. “Vacation, sir.” gue menjawab sambil senyum. “Melancong ya, berapa hari?” ujarnya seakan menerjemahkan jawaban gue tadi lalu kembali bertanya. “2 hari saja. Di Kuala Lumpur.” jawab gue. “Hmm… ok, welcome.” Tak bertanya-tanya lagi, bunyi cap stempel akhirnya tertuah di halaman paspor gue. Senyum gue pun semakin merekah. “Thank you, sir!” gue berpamitan sambil meraih paspor dan menjejalnya ke dalam tas selempang.

Keluar dari pos tersebut, petugas lain menghadang, menuntun gue untuk meletakkan tas punggung dan tas selempang yang gue bawa agar melewati X-ray. Tak ada masalah tentunya, karena gue kan anak baik-baik, begitu pula tas gue juga tas baik-baik.

Aslinya, Imigrasi di Johor Bahru itu gede banget, karena dia nyambung sama Mall, Stasiun dan Terminal bus. Sayangnya karena datang malam dan pilih bus langsung Kula Lumpur, gak sempat eksplor. Btw, gambarnya hasil ngegoogle dari image search.

Beberapa orang dalam rombongan kami sudah terlihat sedang saling menunggu di luar. Di depannya, bus kami sedang parkir. Masih cukup waktu, gue memutuskan untuk ke kamar kecil. Setelah ini perjalanan akan menempuh 4 jam hingga ke KL Sentral, destinasi akhir bus kami. Gue gak mau kebelet dalam perjalanan nanti. Tak ada bilik toilet di dalam bus kami.

***

3 Februari 2019, hari ketiga.

Rasanya segar karena habis mandi. Kemarin gue gak mandi sore karena gak tahu mau mandi di mana. Tak ada waktu juga karena padatnya agenda keliling Singapura. Cuaca yang panas membuat sekujur badan lengket, padahal gue gak pacaran sama badan sendiri.

Baca juga: Fort Canning Park: Menelusuri Sejarah Singapura

Sudah mandi pun, mata masih mengantuk, sebenarnya ingin rebahan sebentar. Namun, gue belum diijinkan check-in, hanya boleh menumpang mandi oleh petugas hostel karena belum waktunya check-in. Ya, gue tiba di hostel pukul 6.30, memang masih terlalu pagi. Apa boleh buat, sebenarnya mau gue juga perjalanan ke Kuala Lumpur tadi malam bisa lebih lama, gue belum puas tidur di bus tapi tahu-tahu sudah sampai di KL Sentral saat masih gelap gulita. Untungnya stasiun KL Sentral buka 24 jam, gue sempat mengisi perut dahulu di McDonald’s sebelum naik LRT Kelana Jaya Line menuju stasiun Pasar Seni di Petaling.

Sehabis mandi, entah mengapa kulit rasanya kering. Mungkin gak cocok sama sabun hostel. Mana gue lupa bawa lotion. “Permisi kak, ada lotion gak ya?” tanya gue kepada salah seorang wanita yang juga habis mandi dan lagi dandan di depan kaca. Gue yakin dia orang Indonesia dari pembicaraannya dengan wanita lain beberapa menit lalu.

“Oh ya, ambil aja sendiri di pouch ya. Yang tube pink itu.” jawabnya.

Begitulah interaksi sosial pertama gue di sebuah hostel di Kuala Lumpur.

Lost in Jonker Street. Mala, kamu di mana? Aku rindu….

Sambil berbincang basa-basi, gue tahu dia ternyata anak Jakarta dan seumuran dengan adek gue. Gue juga tahu dia akan ke Melaka hari ini. Membuat gue berpikir sejenak dalam diam untuk mengubah itinerary. Melaka, yang seharusnya semalam kami lewati saat perjalanan menuju ke Kuala Lumpur ini tidak termasuk dalam agenda wisata gue di Malaysia. Menurut gue terlalu bolak-balik, karena kalau niatnya ke Melaka, harusnya dari Singapura ke Melaka langsung saja. Namun, gue mengurungkan niat mengunjungi salah satu kota bersejarah di Malaysia itu dengan pertimbangan karena akan tiba di Melaka dini hari.

Tapi tapi tapi… Melaka gitu lho. Pasti romantis pergi berdua. Tempatnya kan kece, Instagramable abis. Bisa saling fotoin pula. Ditambah tiket bus menuju ke sana juga gak mahal. Tapi tapi tapi beli tiket OTS masih dapet gak ya?

Hmmm… Fix.

Gue nekat menawarkan diri pergi bareng ke Melaka. “Gue boleh ikut gak? Tapi gue belum beli tiketnya sih.” tanya gue penuh harap setelah mengumpulkan keberanian layaknya mau nembak cowok.

“Oooh… boleh aja sih.” jawabnya agak ragu-ragu. “Gue juga belum beli tiket kok, tapi sekarang mau jalan dulu ke Chinatown, baru ke terminal. Mungkin jam 10an dari sini ya?” tambahnya seakan perlu waktu berpikir untuk menerima perasaan gue.

Sure! Gue ngaso dulu sampai jam 10, mau ngecharge kamera juga. Kabarin aja ya nanti.” Kami pun bertukar nomor WA. Padahal gue gak beli simcard Malaysia. Untung di hostel ada WIFI.

Mala, sebut saja namanya demikian. Begitulah kisah awal pertemuan kami hingga menghabiskan waktu di Malaysia bersama selama dua hari.

***

Melaka River Cruise

Tak taratak taratak. Bunyi suara hujan yang menghujam atap perahu kami, bukan suara tabuhan gendang ataupun suara jantung berdetak.

Loket tiket Melaka RIver Cruise. Harga untuk orang asing RM 30.

Ya, mendadak hujan deras turun di bumi Melaka. Spontan, gue melindungi kamera dari cipratan air hujan. Kami tengah berada di atas perahu Melaka River Cruise, saat asyik membidik suasana warna-warni rumah di sepanjang pinggiran sungai, tiba-tiba saja hujan deras turun, seperti perasaan cinta yang tidak pernah bisa dibendung. Tapi tadi sudah ngebatin sih, langit memang mendung sejak kami tiba di Terminal Melaka. Tinggal menunggu waktu, layaknya menunggu kepastianmu.

Hingga tur berakhir, hujan masih tak hentinya mencurahkan seisi hati seperti baru putus sama pacarnya.

Huft. Itinerary dari tadi kacau. Akibat mendadaknya kami membeli tiket, hari itu yang memang libur panjang menjelang Imlek, semua orang seperti berbondong-bondong menuju ke Melaka mengakibatkan tiket bus tercepat habis. Kami baru mendapatkan tiket untuk perjalanan pukul 2 siang. Itu pun hanya 3 seat yang tersisa. Beruntung kami berhasil mendapatkan 2 seat terakhir.

Penuh mural di sepanjang sungai.

Bingung, tak tahu harus apa. Akhirnya kami hanya numpang berteduh di tempat pembelian tiket Melaka River Cruise hingga hujan berangsur reda.

Gereja Kristus Melaka

Kami memutuskan berjalan ke Gereja Kristus Melaka yang berdiri sejak abad ke 18 dan diklaim sebagai gereja tertua di Melaka. Nuansanya yang pink, mengingatkan gue akan sebuah gereja di kota Ho Chi Minh.

Sengaja pakai baju pink juga. Hehehe.

Setelah foto-foto sejenak dan menunggu Mala ngevlog, tiba-tiba saja hujan kembali turun. Duh, gue mengerti ini mau Imlek, tapi kan belum tepat hari Imlek, kenapa hujan terus? 🙁

Kali ini kami berteduh sambil melihat-lihat koleksi uang lama dan peninggalan antik di sebuah toko dekat gereja. Menenggelamkan pikiran menelusuri masa lampau. Gini terus gimana mau move on?

Hari semakin sore, kami sudah tak banyak waktu lagi karena harus tiba di terminal sebelum pukul 9 malam, jam keberangkatan bus kami kembali ke Kuala Lumpur. Dengan menerobos langit yang masih sesenggukan, kami melangkahkan kaki ke Jonker Street. Pasar malamnya Melaka. Disambut dengan atraksi es kelapa muda ala Jonker yang beken di kalangan wisatawan.

Penuh lampion di sepanjang jalan. Chinatown banget pokoknya.

Kembali, Mala tak melewatkan kesempatan untuk ngevlog.

Kami berjalan sampai ujung dan kembali lagi dengan hanya membeli sushi untuk bekal makan malam kami di bus. Sebelumnya sempat mencoba es cendol juga sih, sambil nonton karaoke yang diadakan di ujung jalan.

Rata-rata makanan di Jonker adalah masakan Cina, membuat kami ragu akan kehalalannya untuk pesan makanan. Selain itu, kami tak punya banyak waktu. Lebih memilih mengabadikan setiap momen langkah kaki kami. Ada restoran unik, foto dan ngvlog. Ada gang lucu, foto dan ngevlog. Begitulah wanita kalau lagi jalan-jalan, apalagi selebgram wanna be seperti kami.

Pukul 8.30 malam. Kami harus memesan Grabcar sesegera mungkin. Untung ini bukan Jakarta yang traffic-nya tidak pernah jelas. Perjalanan menuju terminal bisa ditempuh hanya 15 menit saja. Kami masih sempat bernafas dan buang air kecil di terminal.

***

4 Februari 2019, hari keempat.

Tepat pukul 8.00 pagi, gue dan Mala menuju stasiun KL Sentral untuk transit dan naik KTM ke Batu Caves. Destinasi yang paling gue tunggu-tunggu.

Hari inipun gue masih mengantuk lantaran kurang tidur. Kebiasaan kalau kecapekan malah gak bisa tidur nyenyak. Tapi hari ini hari terakhir gue di Kuala Lumpur, gue harus menahan kantuk! Gue manfaatkan perjalanan 30 menit ke Batu Caves untuk memejamkan mata sejenak.

“Din, nyampe nih.” senggol Mala membangunkan gue yang terlelap.

Batu Caves

Stasiun Batu Caves.
Salah satu kuil di Batu Caves.

Keluar stasiun Batu Caves ternyata matahari bersinar terik sekali. Gue rasa langit sudah puas nangis-nangisnya kemarin. Semakin silau ketika kami melihat kilauan Patung Murugan raksasa yang berlapis emas. Tak tahan kepanasan, kami masuk ke salah satu kuil di bawah patung Murugan raksasa. Tak lupa, kami foto-foto di dalam kuil. Salah satu foto gue di sini bahkan direpost di story Instagram-nya @VisitMalaysia. Keren kaaaaan. Haha 😀

Sebagian besar waktu gue hanya duduk di dalam kuil sambil mengamati lalu lalang pengunjung yang sering merasa kebingungan karena harus terpaksa menyewa kain untuk menutupi paha mereka. Ya, untuk masuk ke kuil atau naik ke gua, pengunjung diwajibkan memakai baju yang sopan. Kaki tidak boleh terlihat bagi pengunjung wanita. Kuala Lumpur yang panas apalagi hari itu membuat turis asing tergoda untuk mengenakan rok mini ataupun celama pendek. Tapi mereka terpaksa merogoh recehan untuk menyewa kain demi menanjaki 272 anak tangga yang akhir-akhir ini dicat warna-warni itu. Sedangkan Mala, masih asyik ngevlog di dalam kuil.

Gilaaaaak. Raksasa banget kan ini patung Murugan?!

Sesudah Mala keluar, kami mengecek jam. Ternyata sudah pukul 12 lebih. Kami berencana naik KTM pukul 1 untuk kembali ke pusat kota. 272 anak tangga, harus segera dikhatamkan.

Tidak ada yang menarik di dalam gua Batu Caves. Bagaimanapun gua hanyalah gua. Tidak ada si gua hantu juga di sini. Hanya beberapa kuil dengan aroma dupa mereka.

Kruyuuuk petok petok. Suara perut lapar gue dan suara ayam entah darimana asalnya memaksa kami untuk segera turun ke stasiun dan pergi ke pusat kota. Menara Kembar Petronas adalah destinasi kami selanjutnya.

Menara Kembar Petronas

Menara Kembar Petronas, yang sempat menjadi bangunan tertinggi di dunia pada tahun 1998 – 2004 sebelum akhirnya dikalahkan oleh Burj Khalifa dan Taipei 101 ini masih memegang bangunan kembar tertinggi di dunia. Sehingga tidak heran jika menjadi salah satu ikon Malaysia yang terkenal di penjuru dunia.

Sesudah makan siang di food court di Suria, sebuah mall yang berada di bawah menara kembar tersebut, kami piknik di taman KLCC sambil menjilati es krim McDonald’s. Sungguh romantis jika datang bersama kekasih, bukan dengan seorang Mala. Hahaha.

Seperti biasa, gue mengamati sekeliling dan menjumpai sekelompok India lokal yang sedang narsis di sana dan di sini. Tak ada beda dengan kami. Juga, beberapa anak-anak yang asik main di kolam renang kecil walau terik menyengat. Anak-anak, belum takut kulit menghitam, apalagi ibu mereka, sudah tak peduli lagi. Sudah laku ini. Atau air mancur yang bermain dengan lincahnya menarik mata pengunjung. Walau hanya melihat dari kejauhan di nalik rindangnya pepohonan di sekitar. Ah, andai di Jakarta taman-tamannya senyaman dan sebersih ini…

“Pesawat gue ntar jam 8 nih. Gue dari KL jam 5-an cukup kali ya?” tanya gue ke Mala. “Cukul lah naik KLIA Express. Habis ini kemana? Gue masih mau di sini dulu, masuk lagi ke Suria ada yang mau dibeli.” katanya.

“Hmm, gue ini mau ke arah hostel sambil lewatin kompleks Masjid Jamek. Ambil tas, cabut deh. Kalau gitu pisah di sini ya.” Akhirnya gue menyendiri lagi. Setelah berpelukan melepas kepergian masing-masing, gue sah kembali menjadi seorang jomblowati solo traveller.

Yang sayang anak bisa diajak berenang gratis di sini yak.

Masjid Jamek, Gedung Sultan Abdul Samad

“Dek, dari Indon?” Mendadak seorang bapak-bapak menghadang langkah gue masuk ke kawasan Masjid Jamek. “Iya.” Jawab gue singkat. “Tolonglah, saya mahu pulang ke rumah tapi tak ada wang.” katanya dengan bahasa Melayu. Lah, ternyata ada beginian juga di Kuala Lumpur. Tak ada beda dengan Jakarta atau kota lain di Indonesia. Huh. Mohon maaf, bukannya tak mau membantu tapi maaf, saya tidak bisa ngasih.

Cuaca yang sempat terik mendadak kembali mendung dan tak menunggu untuk kembali menangis. Kali ini gue gak komplain. Lumayan suhu jadi sedikit turun. Untung juga gue sudah sampai di Masjid Jamek, jadi bisa berteduh sekaligus menunaikan ibadah.

Usai sholat dan menyelonjorkan kaki, gue kembali melanjutkan perjalanan dengan payung hitam kesayangan. Masih gerimis dan berangin, tapi justru suasana menjadi syahdu dengan pemandangan sungai serta tampak belakang Gedung Sultan Abdul Samad yang megah di sebrangnya. Tentu saja, foto dengan Gedung bersejarah bernuansa krem ini menjadi spot yang apik! Kali ini tripod menjadi andalan gue.

Central Market dan Kasturi Walk

Walaupun seorang backpacker, tetap saja gak afdol kalau belum beli sesuatu sebagai kenang-kenangan. Gue biasanya beli magnet untuk koleksi. Tapi kali ini gue lebih memilih beberapa pouch dan tottebag sebagai buah tangan untuk keluarga. Dengan sisa-sisa ringgit di dompet berhasillah membeli beberapa dari hasil tawar-menawar.

Central Market dan Kasturi Walk ini memang menjadi andalan para wisatawan untuk berburu oleh-oleh. Dari pernak-pernik hingga coklat atau jajanan khas bisa dibeli di sini dengan harga terjangkau. Ada pula money changer di dalam Central Market yang mengantisipasi pelancong asing kehabisan ringgit.

Puas belanja, gue segera menuju ke hostel yang letaknya tak jauh dari Kasturi Walk untuk mengambil tas yang gue titipkan saat check out tadi pagi. Lalu menyebrang ke stasiun Pasar Seni untuk ke KL Sentral dan naik KLIA Express ke bandara. Sambil mengantri membeli tiket berbentuk koin di mesin penjual, ternyata usai sudah perjalanan awal tahun ini. Gue tersenyum simpul puas sambil memasukkan recehan ke lubang koin di mesin penjual. Antrian panjang tak membuat gue gelisah walau rasanya diburu waktu untuk segera ke bandara.

Singapore & Malaysia Trip, achieved.

Virgo girl. Debater Personality. I do what I wanna do.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *