page contents
Travel

Ke Pulau Penang Tanpa Pinangan

Kalau biasanya judul travel blog adalah seperti “Itinerary Penang 3 hari 2 malam”, “Hal-hal yang bisa dilakukan di Penang”, dan lain-lain, kali ini judul postingan gue sesuai perasaan sajalah. Karena lagi-lagi perjalanan ini dimulai demi bertemu jodoh di jalan, namun ternyata lagi-lagi masih selisipan, jadinya ya gak ketemu deh. Tak ada lah itu acara pinang-meminang. Huehehehe.

Baik, mari kita bahas dengan lebih serius mengenai perjalanan kali ini.

Penang International Airport.

Ada yang belum tahu Pulau Penang? Itu lho yang sekarang terbang pakai Citilink bisa direct kesana. Tapi sih kemarin gue gak pakai Citilink yaaa. Pakai AirAsia aja karena kebetulan yang ngasih promo duluan dari AirAsia. Promo Citilink menyusul beberapa bulan kemudian dengan free bagasi 10 kg serta gratis makanan. Huft.

Yap, gue beli tiket ke Penang ini sudah sejak bulan September 2018 dengan keberangkatan tanggal 4 – 7 April 2019, dengan harga Rp 534.720 untuk Pulang-Pergi selama 4 hari 3 malam.

“Jadi kesimpulannya Pulau Penang itu dimana?”

Eh iya yak, lupa belum dijelasin. Monggo ditengok petanya di bawah ini.

Pulau Penang atau orang lokal biasa menyebut Pulau Pinang, merupakan sebuah pulau bagian dari Malaysia yang terletak di pantai barat laut Semenanjung Malaysia. Nama Pinang sendiri bukan memiliki arti melamar ya, melainkan diambil dari nama pohon Pinang atau sejenis pohon Palem.

Dahulu, Pulau ini dikenal sebagai pangkalan baru British yang diasas oleh Francis Light. Beliau membangun Benteng Cornwallis dan juga mengubah kawasan Tanjung Penaga menjadi George Town yang dipersembahkan untuk Ratu Elizabeth II. Hingga saat ini masih terlihat sekali kawasan George Town sebagai kawasan bekas kolonial dengan percampuran budaya timur dan barat. Oleh karena itu, UNESCO menobatkan kawasan ini sebagai Wold Heritage Site pada tahun 2008 yang membuat para pelancong berdatangan ke Pulau Penang.

Balai Kota Penang.

Seperti judulnya, perjalanan ini merupakan perjalanan tanpa pinangan (baca: sendirian), namun sendiri bukan berarti sendirian dong. Karena tanpa sengaja, temen gue, Pikachu, membeli tiket promo Citilink ke sini dengan tanggal sehari setelah keberangkatan gue. Alhasil kami janjian untuk jalan bareng. Kemudian, sewaktu gue sedang jalan berburu street art di George Town, gue kenalan dengan soloers cewek, mbak Lady dari Jakarta. Sambil basa-basi ngobrol pas saling fotoin, gak tahunya ternyata kami terbang dengan pesawat yang sama! Pulang-Pergi! Akhirnya demi kemudahan dan kelancaran bisa saling foto-fotoin tanpa mode selfie, kamipun memutuskan jalan bareng. Jadilah kami grup trio kwek kwek makcik Penang. Hueheheheh.

(Dari kiri ke kanan) Gue, Pikachu, dan Mbak Lady.

Gue pribadi secara total menghabiskan 4 hari 3 malam dengan waktu efektif 2 hari saja. Kenapa? Karena gue baru nyampe di Penang saat sore hari dan pulang dengan penerbangan pagi. Sedih ya? Apa boleh buat, resiko tiket promoan.

Well, seperti biasa, di halaman ini gue akan bahas apa saja yang gue lakukan dan kunjungi perharinya selama di Penang.

Hari pertama, 4 April 2019

Setibanya di Bandara Internasional Pulau Pinang pukul 16.30 waktu setempat (lebih cepat 1 jam dari WIB), gue mencari ATM untuk tarik uang cash ringgit sebagai biaya hidup selama 4 hari. Kebetulan tak jauh dari ATM center, ada kios provider lokal. Sekalian deh gue beli SIM card di situ. Harga untuk paketan internet selama 5 hari adalah 25 RM. Sukses bisa internetan, gue mengejar waktu untuk naik bus 401E menuju terminal Pangkalan Weld, George Town.

PS. Rate MYR 1 = IDR 3.500

Oh iya, alangkah baiknya gue jelaskan dulu mengenai transportasi umum di Penang.

Di Penang, semua wilayah bisa diakses dengan menggunakan bus Rapid Penang (berbayar) atau bus CAT (gratis). Tarifnya lumayan terjangkau, tapi wajib punya recehan untuk naik ke bus ini karena supir bus tidak menyediakan uang kembalian. Tarif awal sekitar 1.4 RM (tarif termurah yang gue bayar) dan paling mahal sekitar 2.7 RM (tarif termahal yang gue bayar). Ada juga taksi tentunya atau bisa menggunakan Grabcar untuk layanan online.

Dari bandara bisa mengakses George Town dengan bus Rapid Penang ini, lokasinya hanya perlu menyebrang dari pintu keluar bandara, lihatlah ke sisi kiri dan voila! Terlihatlah halte bus. Kamu bisa naik dari situ. Hanya saja mungkin nunggu bus datang agak lama ya. Tarifnya 2.7 RM, vice versa.

Cek rute Rapid Penang dan CAT bus di sini.

Rencana awal gue hari itu adalah mengunjungi daerah Clan Jetties untuk menikmati sunset hari pertama di Penang dengan langsung turun di terminal Pangkalan Weld, George Town.

Dari sebrang terminal Pangkalan Weld.

Clan Jetties merupakan etnis China yang tinggal di desa terapung dekat Pangkalan Weld. Dahulu mereka merupakan imigran dari China yang datang ke Penang dan menjadi nelayan (walaupun sekarang juga ada yang bekerja di kota). Secara total ada 7 clan yang menempati masing-masing desanya, yang paling dikenal adalah Chew Jetty, akan tetapi sekarang masih tersisa 6 clan saja karena pernah terjadi kebakaran.

Perahu legendaris di salah satu desa Clan Jetties.

Di desa terapung ini baik rumah-rumah maupun gang-gangnya didesain dengan papan-papan kayu khusus yang aman dari air laut. Inilah yang menjadi daya tarik para turis, berjalan di papan-papan di atas laut. Para turis dipersilahkan untuk berkunjung kapan saja dengan batas waktu harus meninggalkan area paling lambat pukul 22.30. Sedangkan waktu terbaik untuk berkunjung adalah pukul 7.00 karena katanya kita bisa melihat para penghuni memulai aktivitas mereka terutama ketika mereka melakukan ritual ibadah. Walau begitu gue tetep keukeuh ingin sunset-an aja.

Sayangnya, ketika gue sedang duduk manis di dalam bus Rapid Penang menuju terminal Pangkalan Weld, tiba-tiba saja langit mendung dan hujan turun deras hingga gue tiba di terminal. Padahal hanya beberapa langkah kaki saja dari terminal untuk sampai di kawasan Clan Jetties. Tapi hujan begini mau ngapain kan? Akhirnya gue langsung mengubah haluan menuju hostel dengan berjalan kaki menerobos hujan.

Tidak jauh untuk menuju hostel yang telah gue booking sebelumnya di Booking.com. Hostel gue beralamat di Jalan Love Lane dimana dekat sekali dengan Lebuh Chulia (kalau gue bilang jalan ini adalah pusatnya George Town). Seorang cici manis (kayaknya sih lebih muda dari gue) berambut pendek dengan kaos abu-abu serta celana mini menyambut dengan senyum ramah merekah saat hendak check-in. The 80’s Guesthouse, tempat di mana gue akan tinggal selama 3 hari ke depan dan GUE SANGAT MEREKOMENDASIKAN HOSTEL INI!

Desain dan keadaan hostelnya benar-benar seperti foto dari Booking.com lho.
(Ini foto-foto di hostel ambil semua dari Booking.com ya)

Dari segi bangunan, sama saja dengan bangunan tua dua tingkat khas kolonial yang berjejeran di seantero George Town. Selama 3 malam tersebut gue mendapatkan tarif 136 RM sesuai dengan invoice di Booking.com, tanpa deposit ataupun pajak tambahan. Kamar asrama wanita dengan kasur tingkat, sekamar ada 4 kasur dan 4 loker plus kuncinya, breakfast include dengan menu roti tawar/roti gandum beserta aneka selai (favorit gue adalah selai kaya), buah semangka dan melon, susu, serta kopi/teh panas. Bisa makan sepuasnya dengan batas waktu dari jam 8 pagi – 12 siang. Gue pernah sarapan dua kali di jam 8 dan jam 11. Wkwkwkwk. Selain itu juga dapat handuk (biasanya hostel tidak menyediakan) dan sabun/shampoo. Dan paling pentingnya adalah bisa ambil air minum di dispenser sepuasnya (hostel tempat temen-temen gue menginap tidak disediakan air minum). Oh ya, si cici juga bisa minjemin adaptor untuk charger. Hanya saja waktu gue mau pinjam ternyata kehabisan stok, akhirnya gue beli aja deh di minimarket ujung gang, sekalian buat investasi. Harganya 6 RM.

Berhasil masuk kamar dan hujan reda, gue keluar untuk cari makan malam. Susahnya di sini adalah cukup sulit untuk mencari makanan halal (kalau mau makanan India), karena yang dominan adalah masakan Cina. Gue sempat ingin makan bubur yang tertera pada brosur Penang Food dari bandara. Restorannya sangat dekat sekali dengan hostel, sayangnya pas lewat kok yang jualan orang Cina, karena ragu akhirnya gak jadi beli (padahal sih tanya aja dulu ya). Hehehe. Jatuhlah pilihan pada salah satu pedagang kaki lima di pasar malam Chulia yang menjual makanan vegetarian. Yang jual mas-mas India hai. 10 RM untuk seporsi Hummus Plate.

Total pengeluaran hari pertama : MYR 178.7 / IDR 625,450

Hari kedua, 5 April 2019

Gue bangun pukul 7.00, di mana teman-teman sekamar gue tengah terlelap. Matahari baru menampakkan diri saat gue keluar kamar dan menegok langit dari halaman. Suara burung-burung berkicauan merdu serasi dengan sejuknya pagi itu.

Ayo bersiap-siap memulai petualangan!

Tepat pukul 8.00, gue turun ke ruang tengah dan menyantap dua tangkup roti gandum dengan olesan selai kaya, serta secangkir susu. Belum ada siapapun yang turun untuk sarapan. Memang masih terhitung pagi, karena sunrise di sini cukup terlambat dibanding Jakarta. Tapi mumpung belum panas inilah waktu yang tepat untuk memulai jalan-jalan keliling George Town.

Gereja St George.
Goddess of Mercy Temple di Jalan Kapitan Keling.
Masjid Kapitan Keling, masjid pertama di Penang, berada di dekat Goddess of Mercy Temple.

Rute pagi itu adalah ingin menikmati suasana laut pagi hari, jadi gue menuju ke arah Balai Kota yang bisa ditempuh 5 menit dengan berjalan kaki dari hostel. Suara deburan ombak pun terdengar ketika gue melihat garis pantai di kejauhan dari lapangan Kota Padang Lama. Ketika bersemangat melangkahkan kaki menuju garis pantai tetiba gue mendengar bunyi klakson mobil yang (maaf kalau gue kepedean) ditujukan untuk gue. Awalnya gue gak sadar hingga ada suara mesin mobil yang kian melambat di samping (untungnya gue berjalan di sisi trotoar lapangan yang cukup terpisah jauh dari jalanan beraspal) dan dari balik setir, seorang bapak-bapak India melambaikan tangannya. Gue sih ngecuekin aja karena entah lambaian itu untuk siapa, dan berharap dia segera melaju lagi. Tapi hingga berada di jalanan bibir pantai, mobilnya terlihat semakin melambatkan lajunya sambil terus memandangi gue (rasanya sih begitu), akhirnya gue putuskan untuk putar arah balik dan masuk ke dalam kota. Hiiiii ngeri.

Salah satu street art di George Town yang berada di Lebuh Gat Chulia.

Berbekal peta street art (bisa didapat di brosur di hostel atau cek di sini), gue menyusuri jalanan George Town hingga bertemu dengan mbak Lady yang akhirnya menjadi teman seperjalanan selama di Penang. Nha, kebiasaan gue kalau ketemu orang baru dan jalan bareng, itinerary-nya jadi menyesuaikan kondisi pihak-pihak yang berkepentingan. Hehehehe. Karena senang akhirnya ada teman yang bisa disuruh moto-motoin, kami hanya berjalan sesuai langkah arahan kaki saja. Kesamaan kami pada waktu itu adalah menuju Clan Jetties hari itu untuk menebus gagalnya rencana kemarin. Maka, kami menuntun kaki masing-masing menuju Clan Jetties sembari berburu street art senemunya.

Sekitar pukul 10.00 kami tiba di Clan Jetties dan itu benar-benar sudah terik mataharinya. Walau begitu, tidak mengurungkan niat kami untuk foto-foto di sana dengan background spot-spot terkenal yang sering beredaran di beranda instagram.

Salah satu Klenteng (?) yang ada di depan gang salah satu desa di Clan Jetties.

Setelah puas, mbak Lady izin berpisah dulu karena harus check-out dan checkin di hostel lain. Kami pun janjian ketemu lagi di Jalan Penang untuk menyantap es cendol yang katanya paling terkenal di Penang. Sedangkan gue kembali berburu street art.

Karena panasnya yang benar-benar teriiiik, gue menyerah dan kembali ke hostel untuk leyeh-leyeh. Nha, pas pulang ke hostel inilah ternyata masih berlaku jam breakfast, jadi gue manfaatkan untuk makan lagi, itung-itung sebagai makan siang. Wkwkwkwk.

Si Pikachu pun mengabari sudah siap bergabung siang itu dan setuju untuk kulineran bareng di Jalan Penang. Namun, sebelumnya kami mencoba mampir dahulu ke Cheong Fatt Tze Mansion atau yang lebih dikenal dengan The Blue Mansion dengan naik Grabcar (karena sangking panasnya, padahal deket kalau mau jalan kaki!). Sayangnya, saat itu sedang ditutup untuk turis bahkan untuk masuk ke halamannya pun tidak diizinkan karena ada shooting. Akhirnya kami langsung melipir ke Jalan Penang (kali ini jalan kaki).

Memasuki Jalan Penang kami disambut dengan berbagai kios sovenir, terutama pakaian-pakaian batik serta tas-tas bermotif street art khas George Town, hingga akhirnya di ujung Jalan Penang, lebih tepatnya di Jalan Keng Kwee, tibalah kami di kios Penang Road Famous Teochew Chendul. Mengapa cendol di sini terkenal banget? Tentunya ada sejarah di baliknya. Kios cendol ini sudah berdiri sejak tahun 1936 oleh Tan Teik Fuang dan usahanya diturunkan kepada anak-anaknya hingga sekarang. Selain es cendol, bisa juga sekaligus pesan makanan di Kafe Joo Hooi atau Penang Road Famous Ah Chia Ko yang tempatnya jadi satu. Kafenya berada persis di samping gerobak es cendol. Kalian bisa pesan berbagai makanan khas di sini. Kebetulan karena gue sendiri ngirit masih kenyang karena sarapan dua kali, jadi cuma bantuin ngabisin makanannya Pikachu aja. Huehehehe.

Cobain CAI KUIH-nya deh. Kenyel-kenyel gimaaa gitu. Isinya yang ijo adalah daun bawang dan yang putih itu kayaknya lobak putih.

“Enggak jalan tanpa perut kenyang.” Begitulah prinsip Pikachu yang memang sudah rewel kelaparan dari sejak bertemu, akhirnya siap berpetualang dengan energi penuh. Terik matahari bukan jadi pantangan lagi! Tapi kami tetap pesan Grabcar menuju Pinang Peranakan Mansion, karena kalau jalan kaki lumayan jauh. Hanya saja ujung-ujungnya kami gak masuk ke rumah tersebut karena harus bayar 20 RM. Hehehe. Gue sih sudah tahu kalau emang bayar, tapi ini temen-temen gue maunya yang gratisan aja (ya gue juga sih). Padahal rumahnya bagus banget lho! Yang hobi cari spot instagramable WAJIB masuk dan bayar 20 RM!

Dari luar aja warna rumahnya sudah Instagramable, gak sih?

Oh ya, untuk datang ke Blue Mansion juga sama bayar 20 RM. Bahkan bangunan tersebut juga dialih-fungsikan sebagai penginapan, jadi yang mau menginap maupun ikut tur nya silahkan kunjungi website-nya untuk reservasi. Gue sendiri coba reservasi ikut tur sebelum ke Penang tapi sudah kehabisan slot (atau memang ditutup karena shooting tadi?).

Dari Pinang Peranakan Mansion barulah kami menelusuri rute gue tadi pagi yang sempat diskip. Untungnya jalanan di Kota Padang Lama ini ada pepohonan tidak seperti di jalanan George Town. Jadi lumayan adem. Kami sempat mampir dulu ke Subway di seberang Kota Padang Lama lantaran gantian gue yang merengek lapar. Hehehe.

Kami hanya jalan-jalan santai saja memutar, foto di depan Balai Kota, duduk santai di belakang benteng Cornwalli, melihat kapal pesiar dan menara Queen’s Clock hingga kembali ke halte Kota Padang Lama. Berikut gambarannya:

Sumber:
http://aishouzuo.org/george-town-location-on-the-malaysia-map/

Di halte, mbak Lady pamit memisahkan diri karena sudah mengantongi tiket untuk menikmati sunset di Komtar Top Skywalk. Sedangkan itinerary gue saat itu adalah menikmati sunset di pantai Batu Ferringhi. Namun, karena masih ada cukup waktu, gue menemani Pikachu untuk berburu ulang street art.

Pukul 16.00 kami kembali ke hostel masing-masing, dan janjian jalan ke Batu Ferringhi satu jam kemudian. Namun apa daya kemageran kami yang terlena menikmati AC kamar dari super duper cuaca panas di luar, ujung-ujungnya kami molor waktu dan baru dapat bus sebelum jam 18.00. Fix, gak bakal keburu sunset-nya. Tapi masih berpositif ria karena ingin mampir juga ke Batu Ferringhi Night Market.

Haltenya ini gak ada kalau di Lebuh Chulia, Love Lane. Hanya tiang seperti ini saja dan nyempil! Tepatnya di sebrang Seven Eleven ya (satu-satunya Seven Eleven di Chulia).
Bus 101 jurusan ke Teluk Bahang, bisa naik dari Lebuh Chulia, Love Lane.

Akan tetapi, ternyata oh ternyata lama juga perjalanannyaaaaa. Hampir dua jam ditempuh dengan bus Rapid Penang jurusan 101 karena macet di beberapa titik. Padahal jarak tempuh dengan Grabcar sih hanya 30 menit (kalau lancar).

Di sepanjang jalan menuju Batu Ferringhi juga ada Masjid Apung Tanjung Bungah. Saat lewat sangat cantik sekali dengan lampunya yang terang. Gue baru tahu destinasi ini ketika di Penang. Menurut gue wajib didatangi, kalau kalian ke Penang.

Akhirnya, kami hanya makan di salah satu food court dan langsung pulang karena hari sudah malam.

Total pengualaran hari kedua: MYR 26.85 / IDR 93,975

Hari ketiga, 6 April 2019

Kemarin kami bertiga telah sepakat untuk mengikuti itinerary hari ketiga gue dengan tema “Berburu Sunrise di Penang Hill“, dan kami semua sangat bersemangat akan bela-belain berangkat subuh (subuhnya toh jam 6 pagi).

Malamnya seperti biasa gue tidur kurang nyenyak (memang anaknya susah tidur kalau lagi travelling) dan terbangun karena suara gemuruh petir. Melihat jam tangan di bawah bantal, masih pukul 4 pagi. Namun tetap saja, dengan cuaca mendung seperti ini apakah sang matahari tetap berniat muncul di balik bukit teletubies lautan yang mengelilingi Pulau Penang? Sambil uring-uringan karena mengantuk berat, mendadak suara gemuruh petir bersahutan dengan suara derasnya hujan.

Baiklah. Terima kasih. Selamat tidur kembali.

Pukul 6.00 dengan lesu gue makan roti gandum selai kaya dua tangkup dan secangkir susu, sambil sesekali melirik ke arah luar hostel memastikan rerintikan hujan telah reda.

Pukul 6.30 pagi, kami janjian bertemu di terminal Komtar untuk naik bus jurusan 204 dengan destinasi akhir Bukit Bendera. Cukup bayar 2 RM saja untuk jarak tempuh sekitar 1 jam.

Di terminal Komtar pilih antri di Line 2 ya.

Penang Hill, atau lebih dikenal dengan sebutan Bukit Bendera oleh lokal mungkin menjadi tempat favorit gue selama di Penang karena adem. Satu-satunya tempat yang adem di Penang, tapi kalau datang siangan dikit sih panas. Jika cuaca bagus gue sangat merekomendasikan agar datang dengan tujuan melihat sunrise. Penang Hill ini sudah buka dari pukul 6 pagi. Menurut hemat gue, jika kita berangkat dari terminal Komtar pukul 6 pagi, masih cukup untuk mengejar sunrise.

Oh iya, ini blog rekomendasi tentang sunrise-an di Penang Hill. Gue kepengen juga karena baca blog ini. Hehehe.

Untuk mencapai puncak Penang Hill, diharuskan naik melalui trem. Biaya tiketnya sebesar 30 RM untuk Pulang-Pergi. Gue seneng banget menikmati sensasi naik trem-nya! Hehehe. Wajib banget ambil gerbong paling awal atau paling akhir deh.

Perhatikan Entry Batch yang tertera di tiket ya, jangan sampai terlewat masuk antrian, bisa-bisa ditinggal (yah walaupun bisa naik untuk batch selanjutnya sih, tapi kalau ramai kan kasihan batch sesudah kita nanti penuh.)

Di Penang Hill, menurut gue sendiri sih tidak banyak yang bisa dilihat kecuali memang mencari suasana alam dari panasnya George Town. Kecuali jika kalian berkunjung ke The Habitat, cukup banyak atraksi yang ditawarkan. Awalnya kami ingin ke sini sebelum tahu bahwa harus bayar lagi jika ingin ke sana. Kami mengurungkan niat untuk bayar setelah tahu harganya. Hehehe.

Dari Penang Hill, kami turun dengan bus menuju kuil Kek Lok Si yang merupakan kuil Budha (Wihara) terkenal di Asia Tenggara. Nah, halte menuju Kek Lok Si tidak ada yang di depan kuil langsung melainkan harus turun di depan pasar Air Itam. Karena untuk mengeksplor kuil Kek Lok Si ini butuh tenaga full, jadi gue sarankan untuk isi amunisi dulu di pasar ini. Ada food court yang tersedia berbagai macam masakan dan minuman, namun gue sarankan untuk mencicipi Asam Laksa yang paling terkenal di pasar Air Itam ini. Rasanya maknyuuus! Bisa dinikmati hanya dengan 5 RM saja! Mirip-mirip Tom Yam gitu, karena rasanya asam segaaar.

Halaaaaaaal!!!

Oke, amunisi terisi kini saatnya berperang!

Jangan naik tangga itu yaaa, soalnya buntu alias ZONK. Wkwkwk, pintu masuknya lewat lorong di bawahnya.

Lho kok perang?

Yeees, karena untuk menuju kuil ini, kami harus menyerang panas dengan perjalanan jauh menanjak. Tak lupa, payung pun dibuka untuk melawan serangan panas. Hehehe.

Kami menyusuri jalanan pasar dan akhirnya menemukan petunjuk jalan ke arah kuil Kek Lok Si. Dari situ sudah terlihat patung raksasa Dewi Kuan Yin. Kami pun jalan terus menanjaki jalanan hingga ke kolam penyu. Kuil ini memang dikenal dengan penyu-penyunya. Dari situ, kami lanjut menapaki tangga-tangga hingga sampailah di gerbang kuil Kek Lok Si. Si Pikachu sempat terbersit untuk tidak lanjut masuk ke area kuil dll sangking lelah kepanasan, tapi akhirnya mau ikut juga setelah kami duduk leyeh-leyeh sebentar.

Setiap spot di kuil ini sangat instagramable, gengs. Foto-foto terbanyak yang gue dapat adalah di sini. Hehehe. Ada dua spot berbayar di Kek Lok Si yaitu area Patung Dewi Kuan Yin dan area Pagoda. Kalian bisa pilih sala satu saja dan gue rekomendasi untuk memilih ke Pagoda karena biaya masuknya lebih murah. Namun tak ada salahnya juga jika ingin ke Patung Dewi Kuan Yin, karena kalian akan menikmati kembali sensasi naik kereta trem di sini. Perjalanan dengan kereta inilah yang membuat tiket ke Dewi Kuan Yin lebih mahal daripada mengunjungi Pagoda.

Waktu untuk mengeksplor kuil Kek Lok Si ini ternyata di luar dugaan menghabiskan waktu kami. Diburu waktu, kami pun kembali turun ke halte pasar Air Itam. Dalam perjalanan ke halte, Pikachu beli oleh-oleh dulu di ruko-ruko sekitar pasar. Ada kue tambun (semacam bakpia) yang menjadi kue khas Penang.

Tiba di George Town sore hari, kami langsung mampir ke Nasi Kamdar di Jalan Penang untuk makan siang kemudian menghabiskan waktu untuk berburu oleh-oleh dan titipan di Jalan Penang dan GAMA Supermarket hingga malam dan kaki lempoh. Sempat merencanakan untuk kembali mengunjungi pantai Batu Ferringhi, tapi cuaca kembali mendung dan sempat gerimis sore itu mengurungkan niat kami.

Total pengeluaran hari ketiga : MYR 61.8 / IDR 216,300

Hari keempat, 7 April 2019

Penerbangan kembali ke Jakarta pagi ini pada jam 10.30. Kali ini walaupun di luar cuacanya cerah, gue tidak berusaha untuk mengejar sunrise dimanapun. Gue memilih untuk bangun agak siang dan bersiap, sarapan roti gandum selai kaya dua tangkup dan secangkir susu untuk terakhir kalinya di 80’s Guesthouse, check-out dan kemudian menuju bandara. Rasanya sedih karena masih ingin mengeksplor tempat lain seperti Taman Nasional Penang atau Entopia (Taman Kupu-kupu di Penang).

Boleh lah kembali lagi ke Penang kapan-kapan, atau mau ngetrip bareng kita? 🙂

Total pengeluaran hari keempat : MYR 4.1 / 14,350

Virgo girl. Debater Personality. I do what I wanna do.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *